Nilai-nilai Islam dipraktikkan di Jepang
Oleh: Mohammad Zen Bin Hamzah
Ketika diberi kesempatan oleh pemerintah Jepang untuk berkunjung ke negeri Sakura, saya terkejut. Betapa tidak. Orang seperti saya, yang berasal dari Indonesia Timur dan jauh dari pusat peradaban Indonesia, Jakarta, dapat berkunjung ke negeri yang sangat maju. Saya menyadari bahwa kunjungan Takeshi Kohno San dan Jamhari ke pesantren saya, bukan tidak direncanakan. Semua sudah deprogram oleh pemerintah Jepang dan Indonesia--tentunya, semua atas ijin Allah-- untuk mengirim para ustadz dan kyai ke Jepang. Tujuannya antara lain, agar kami yang berasal dari desa-desa terpencil dan jauh dari jangkauan mereka, dapat belajar banyak mengenai kehidupan sosial pendidikan dan praktik nilia-nilai keagamaan yang ada di Jepang. Untuk semua itu, segala keperluan telah dipersiapkan.
Tiba saatnya, kami datang ke Jakarta bersama teman-teman pengasuh pondok pesantren lainnya, dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi , Ternate, Tidore, dan Papua. Di Kedutaan Besar, kami diberi pengarahan mengenai budaya dan tradisi masyarakat Jepang. Semua itu sebagai bekal nanti ketika kami tiba di Jepang.
Setibanya di Jepang, saya sangat terkejut. Karena, ternyata, masyarakat Jepang sangat sopan dan ramah. Melihat kenyataan seperti itu, saya berpikir, betapa nilai-nilai Islam telah membudaya di Jepang. Betapa tidak? Arigato Gozamaesta, Oregai Shimas, senantiasa keluar dari mulit mereka, menyambut kedatangan kami. Itu sebagai pertanda bahwa masyarakat Jepang sangat menghargai dan menghormati orang lain.
Meskipun waktu berkunjung, menurut saya, sangat singkat. Lebih kurang selama 10 hari. Tapi, waktu yang singkat itu benar-benar saya manfaatkan untuk bertanya dan belajar banyak hal dengan masyarakat Jepang. Selama ini saya beranggapan bahwa masyarakat Jepang adalah masyarakat yang individualis yang berada di Negara kepitaslis materialistis, tidak acuh terhadap orang lain. Bahkan anggapan saya lebih jauh, mereka telah meninggalkan tradisi dan budaya nenek moyang mereka. Kenyataannya tidak. Masyarakat Jepang, meskipun berada dalam Negara maju, tetap mempertahankan tradisi dan budaya leluhur mereka. Ini terlihat dari tata cara pergaulan dan usaha mereka mempertahankan warisan budaya nenek moyang mereka, seperti mempertahankan bangunan-bangunan keagamaan lama dan menyanding¬kannya dengan bangunan-bangunan modern. Ada kawan yang mengibaratkan bahwa orang Jepang itu seperti Apel. Di luarnya merah. Tapi dalamnya tetap putih dan enak dimanak. Meskipun mereka berada dalam dunia modern, masyarakat Jepang tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi dan peradaban leluhur. Ini yang saya lihat agak beda dengan budaya yang ada di sekitar tempat kehidupan saya selama ini. Di mana masyarakat sekitar saya, kerapkali meninggalkan nilai-niliat tradisi leluhur, terlebih yang ada kaitannya dengan nilai-nilai keagamaan, khsusnya Islam.
Di Jepang, justeru saya melihat nilai-nilai Islam telah dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Di antara nilai-nilai al-Qur’an dan nilai-nliai Islam yang sudah menjadi tradisi masyarakat Jepang adalah sikap menghargai dan menghormati orang lain. Rendah hati, tidak sombong, pekerja keras, menjaga kebersihan, rela berkorban untuk orang lain, tidak mau mengganggu privasi orang lain, menghargai waktu dan lain sebagianya.
Pertanyaan saya. Bukankah nilai-nilai yang dipraktikkan oleh masyarakat Jepang merupakan nilai-nilai yang terdapat di dalam ajaran Islam. Tetapi mengapa banyak orang-orang Islam justeru tidak mempraktikkannya. Bahkan nilai-nilai itu secara konseptual selalu diajarkan di dunia pesantren, termasuk di pesantren Harisul al-Khairat, Tidore. Apa yang salah dalam konteks ini. Pesantren, guru, atau metode belajar mengajar, yang selama ini diberikan tidak diindahkan untuk dipraktikkan. Karena itu, wajar menurut saya, jika umat Islam tertinggal dibandingkan dengan Negara-negara maju, seperti Jepang. Dari sinilah saya banyak belajar bahwa nilai-nilai ajaran Islam, tidak hanya dihapal, dipahami, justeru terpenting adalah dipraktikkan di dalam kehidupan sehari-hari.
Selain persoalan itu, ada hal lain yang saya amati. Lembaga-lembaga pendidikan, meskipun tidak dibenarkan memberikan materi keagamaan, apapun jenis agama yang dianut siswa, tetap menghargai mereka yang beragama. Untuk memperdalam ajaran agama, mereka diberi kebebasan di luar sekolah. Karena secara konstitusional, pemerintaha Jepang melarang pendidikan agama di negeri itu sejak perang dunia pertama dan kedua. Pengalaman pahit bangsa Jepang dalam Perang Dunia membuat mereka melarang agama diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan, mulai dari sekolah kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Dalam Perang Dunia, banyak orang Jepang melakukan Kamikaze dan sebagainya untuk memenangkan pertempuran, yang pada akhirnya Jepang harus bertekuk lutut di bawah tentara sekutu.
Meskipun tidak diberikan materi pelajaran agama, para pemuda Jepang, khususnya siswa-siswi, tetap mempertahankan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam ajaran agama Budha dan Shinto. Mereka mempraktikkan nilai-nilai itu dalam kehidupan keseharian. Sehingga bangsa Jepang, selalu giat mengkaji berbagai pengetahuan untuk memajukan negerinya. Karena itu, kini, Jepang menjadi salah satu Negara maju di dunia yang tergabung dalam kelompok G8.
Jadi, intinya, bukan terletak pada bagaimana menyampaikan materi agama di dalam kelas dalam proses kegiatan belajar mengajar, tetapi lebih pada penerapan nilia-nilai keagamaan dalam kehidupan keseharian mereka.
Kerja keras, menghargai waktu, dan lain sebagainya, menjadi barometer kemajuan Jepang. Jika sudah bekerja, masyarakat Jepang tidak kenal lelah. Mereka terus melakukan kegiatan sampai target yang mejadi tujuan mereka benar-benar tercapai. Karena itu, dalam tradisi ini, mereka sering disebut sebagai workaholic. Mereka berangkat pagi hari, dan kembali ke rumah larut malam. Begitulah setersunya.
Pengalaman menarik inilah yang akan saya terapkan di lembaga pendidikan saya kelak.
Demikian,
Wassalam,
Mohammad Zen bin H. Hamzah.
Kepala Biro Pengasuhan
Pondok Pesantren Hasrul Khairat, Tidore,
Bumi Hijrah Tidore, Kota Tidore Kepulauan.
Menjemput Matahari Terbit
Oleh: Murodi
Dalam catatan sejarah dunia, Jepang dikenal sebagai negara Matahari Terbit ( The Rising Sun). Sebutan itu masih terkenal hingga kini, bahkan masyarakat Jepang menyebut kaisar sebagai keturunan Dewa Matahari. Dulunya, Jepang dikenal sebagai negeri yang terisolasi dari percaturan dunia internasional. Tetapi, sejak restorasi Meiji ( 1863), Jepang mulai membuka diri dan menerima berbagai unsur peradaban dari luar, sehingga Jepang mengalami kemajuan pesat, termasuk dalam bidang ilmu penge-tahuan dan teknologi.
Perkembangan dan kemajuan sains dan teknologi Jepang, kini mengunguli teknologi negara-negara Barat. Industri otomotif, menjadi salah satu andalan industri Jepang. Bahkan. Jepang memiliki berbagai industri otomotif di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Australia, Eropa, Afrika, Timur Tengah, dan juga di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Semua itu tidak diperoleh cuma-cuma. Masyarakat Jepang yang dikenal sangat workoholic mampu mengejar berbagai ketertinggalan yang selama pra restorasi Meiji, tidak dapat dilakukan. Keseriusan mereka mengkaji sains dan teknologi, membuat negeri matahari terbit menjadi negara maju di dunia.
Kemajuan-kemajuan itu membuat banyak negara Asia, termasuk Indonesia, mengirim pelajar dan mahasiswa untuk studi di Jepang. Tidak hanya siswa dan mahasiswa, sejak 2003 lalu, pemerintah Indonesia telah menjaling kerjasama dengan pemerintah Jepang untuk mengirim para guru/ ustadz dari berbagai pondok pesantren di Indonesia. Mereka dikirim untuk mempelajari banyak hal di Jepang. Pertanyaannya, mampukan kita menjemput atau mengejar matahari terbit?
Jawabannya, tergantung kepada kita. Mampukan kita merubah watak, kultur dan sistem pendidikan yang salama ini kita geluti. Bila tidak, maka agak kewalahan kita mengejar kemajuan negerai matahari terbi
Bambu dan Nasi Jepang:
Pelajaran Berharga dari Negeri Sakura
Oleh: Murodi
Ketika salah seorang pemandu menjelaskan pada kami bahwa rumpun bambu Jepang berbeda dengan rumpun bambu di Indonesia, kami agak terkejut. Karena, pikiran yang terbesit di benak kami, bambu ya bambu, tidak ada perbedaannya. Ibu Furusawa, begitu nama pemandu kami, lebih jauh menjelaskan jika rumpun bambu di Indonesia memiliki akar serabut dan terdiri dari bambu utama dan anak-anak bambu yang hidup di sekitarnya, maka bambu Jepang beridiri sendiri. Ia mandiri dan tumbuh besar sendiri. Ternyata pohon bambu ini memiliki filosofi tersendiri bahwa orang Jepang bisa hidup mandiri tanpa banyak bergantung pada orang lain. Kemandirian masyarakat Jepang ini dibuktikan dengan keberhasilan bangsa ini menjadi bangsa merdeka, tanpa bergantung pada bangsa lain. Bangsa ini menjadi besar karena mereka mau bekerja keras untuk membangun negeri. Egois kelihatannya. Tetapi itulah kenyataan bahwa kemandirian dan kemajuan bangsa Jepang bukan karena ketergantungan dengan bangsa lain, lebih karena usaha dan kerja keras mereka.
Hal ini berbeda dengan pohon bambu di Indonesia. Pohon bambu memiliki banyak akar dan anak. Tetapi banyak yang tidak lurus, bahkan bila dipisah, ia akan tumbuh seperti induknya. Selalu bersama dan beranak pinak di situ. Ini juga memiliki makna bahwa bangsa Indonesia seperti bambu itu. Ia tampak kelihatan kuat, tapi kurang mandiri.
Hal menarik juga dapat dipelajari dari nasi Jepang. Kalau kita makan nasi Jepang, rasanya enak, pulen dan nasinya menyatu. Tidak terpisah bila dimakan dengan menggunakan sumpit. Nasi Jepang, ketika diangkat untuk dimasukkan ke mulut menggunakan sumpit, ia dapat diangkat dan dimasukkan ke mulut untuk dimakan. Tetapi, nasi Indonesia jika akan dimakan dengan menggunakan sumpit, agak susah atau bahkan tidak bisa diangkat pakai sumpit. Lebih sering berantakan ketika akan dimakan.
Lagi-lagi, ada kawan yang bilang. Itulah nasi Jepang. Nasinya saja pulen dan bersatu serta enak dimakan. Masyarakat Jepang dapat dan selalu bersatu untuk memajukan bangsa dan negaranya. Wallahua'lam.
Diposkan oleh odiemha di 05:20 0 komentar
Selasa, 2008 November 25
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar